Telaah Geologi dan Kemiskinan Jawa Timur
Ditulis oleh gayuhputranto di/pada Mei 18, 2008
Kemiskinan didefinisikan sebagai ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi konsumsi dasar dan meningkatkan kualitas hidupnya. Kemiskinan terkait dengan sistem sosial , sistem ilmu dan teknologi, dan sistem alam.
Sistem sosial meliputi pola pikir masyarakat dalam berwawasan luas ke depan guna memperoleh peluang untuk hidup lebih baik serta sistem nilai yang dianut untuk menunjang apresiasi terhadap kerja keras dan persaingan sehat. Sistem ilmu dan teknologi mencangkup akses masyarakat terhadap teknologi untuk memberikan nilai tambah pada kehidupannya. Sedangkan sistem alam adalah daya dukung alam terhadap kehidupan manusia yang meliputi kesuburan, keterdapatan air, bentang alam, energi, sumber daya mineral, dan bencana alam.
Gelung-gelung keterkaitan sistem alam/geologi dengan kemiskinan dapat dilihat pada bagan 1.

Bagan 1: Gelung-gelung keterkaitan antara kemiskinan SDA (geologi), IPTEK, dan kemiskinan
(Sampurno, 1993)
Dalam tulisan ini, penulis membatasi pada kajian pola hubungan antara sistem alam khususnya kondisi geologi dan dengan distribusi kemiskinan serta penyertaan aspek geologi sebagai bagian dari solusinya, dengan spesifikasi masalah di Provinsi Jawa Timur.
Peta Geologi dan Kemiskinan Jawa Timur


Peta kemiskinan Jawa Timur
Peta kemiskinan Jawa Timur diperoleh dari publikasi ‘Analisis Indikator Makro Propinsi Jawa Timur 2004’ yang dirilis oleh BPS dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang kemudian diplot pada sebuah peta (Gambar 3). Sedangkan Peta geologi Jawa Timur disadur dari buku ‘The Geology of Indonesia’ yang diterbitkan pada 1949 oleh geologiwan Belanda RW. van Bemmelen (Gambar 2).
Di dalam peta tersebut, Jawa Timur dibagi secara bentang fisiografis menjadi enam zona yang membentang barat-timur. Berikut dibahas keterkaitan antara kondisi geologi dengan kemiskinan pada enam zona fisiografis tersebut.
1. antiklinorium Rembang (Zona Rembang),
Zona ini meliputi pantai utara Jawa yang membentang dari Tuban ke arah timur melalui Lamongan, Gresik, dan hampir keseluruhan Pulau Madura. Merupakan daerah dataran yang berundulasi dengan jajaran perbukitan yang berarah barat-timur dan berselingan dengan dataran aluvial. Lebar rata-rata zona ini adalah 50 km dengan puncak tertinggi 515 m (Gading) dan 491 (Tungangan). Litologi karbonat mendominasi zona ini.
Aksesibilitas cukup mudah. Karakter tanah keras
2. zona depresi Randublatung,
Berupa zona yang datar yang diapit oleh dua zona perbukitan (Zona Rembang dan Zona Kendeng). Karakter tanahnya lunak karena sebagian besarnya ditutupi oleh batu lempung, aksesibilitas mudah, adanya aliran Bengawan Solo memungkinkan untuk berperan dalam irigasi persawahan.
otensi ada pada areal persawahan. Di bidang industri migas, zona ini sudah menjadi primadona sejak lama. Pengoptimalan bagi hasil kepada pemerintah daerah setempat dapat digunakan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
3. antiklinorium Kendeng (Zona Kendeng),
Merupakan zona perbukitan yang membentang dari Kabupaten Bojonegoro bagian selatan, Jombang, Mojokerto, serta pesisir utara Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Bondowoso.
Merupakan tantangan baru bagi pengembangan eksploitasi migas seiring dengan ditemukannya beberapa sumur pada Zona Kendeng ini seperti daerah Wunut, Mojokerto dan Tanggulangin, Sidoarjo selatan. Adanya industri migas ini diharapkan dapat memberikan pendapatan lebih pada penduduk sekitar pada khususnya dan bagi Pemerintah Daerah setempat pada khususnya.
Potensi pengembangan wilayahnya ada pada pertanian lahan kering, kehutanan, dan industri kapur. Pembangunan bendung irigasi dapat diprioritaskan pada zona ini mengingat di sebelah utaranya adalah Zona Randublatung yang sangat datar dan potensial untuk area persawahan.
4. Zona pusat depresi Jawa (Zona Solo, subzona Ngawi)
Zona ini meliputi Madiun, Nganjuk, Ngawi, Kediri (edited)
5. Gunung api kuarter, dan
Zona ini meliputi area Gunung Wilis di sebelah barat Magetan, Gunung WIlis di sebelah timur Ponorogo, Gunung Arjuno, Gunung Bromo dan Gunung Semeru, Gunung Argopuro, dan Gunung XXX di Banyuwangi. Kondisi topografi yang tinggi memungkinkan untuk mendapatkan curah hujan yang cukup tinggi, iklim yang sejuk, tanah hasil pelapukan endapan vulkanik yang sifatnya subur, dan menyerap air. Potensi bencana yang mengancam adalah letusan gunung api, gempa vulkanik, dan longsor pada lereng-lerengnya.
Potensi yang harus dikembangkan adalah perkebunan, pariwisata alam, kehutanan terutama pada daerah puncak gunung, konservasi alam, dan penambangan golongan pasir, batu, dan tras.
6. Pegunungan Selatan
Merupakan daerah pegunungan dengan lembah-lembah terjal di bagian selatan Jawa Timur, membentang dari Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang selatan, dan Jember. Aksesibilitas sukar karena keadaan morfologinya yang kasar. Rawan bencana seperti longsor, gempa bumi, dan tsunami di pantai landai.
Banyak kantong-kantong miskin ada di daerah ini. Potensi pengembangan terdapat pada perkebunan, pertanian lahan kering, penambangan logam dan mineral (emas, tembaga, zeolit, bentonit) serta di lokasi-lokasi tertentu memungkinkan penambangan batugamping dan andesit, pariwisata berupa arung jeram dan gua-gua kapur. Pembangunan bendungan untuk berbagai keperluan potensial untuk dibangun.
Solusi Melalui Pendekatan Geologi
Dari gelung sebab akibat, kalau hal tersebut benar (Gbr.3), maka tampaknya yang sangat berperan dalam system penyebab kemiskinan adalah energi fisik dan pikir yang rendah, ilmu dan teknologi rendah, serta kerja tidak produktif. Dan hal tersebut data bersumber pada kondisi ekologi/geologi dari lingkungan hidup masyarakat di tempat tersebut yang tidak bersahabat: tidak subur, sukar air, banyak gangguan bencana alam, serta letaknya yang sukar dijangkau atau terisolasi. Maka dari segi kendala alam tesebut adalah sangat pentig untuk kalau mampu dan pelan-pelan mengubahnya sehingga bersifat mendukung untuk menaikkan daya dukungnya terhadap kehidupan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengupayakan pengadaan air untuk pelbagai kegiatan (minum, mandi, masak, cuci; irigasi, pertanian, perikanan; industri kecil, dll), pengusahaan penggalian mineral golongan C dengan teknologi tepat guna dan berwawasan lingkungan, serta membuka jalan serta pusat pembangunan tersier ataupun kuarter di tingkat local sesuai dengan kemampuannya (pengolahan hasil pertanian, perkebunan, peternakan; kerajinan, industri kecil, pariwisata alam/pariwisata pedesaan, wisata bahari; berbagai koperasi, pusat pengumpulan hasil pertanian, terminal angkutan; kursus-kursus, latihan keterampilan, dsb). Kegiatan besar dapat juga diadakan sesuai dedngan kondisi sumber daya alamnya asalkan dengan criteria dapat meningkatkan pendapatan penduduk dalam jangka pendek/menengah/maupun jangka panjang, serta dapat memperbaiki daerah dan nasional.
Kegiatan yang dapat dilaksanakan di zona yang tidak bersahabat tersebut antara lain perkebunan, peternakan, penambangan berbagai mineral, industri pariwisata. Pengusahaan kegiatan pengembangan local dengan kepentingan daerah dan nasional.
Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat menggerakkan sentuhan-sentuhan terhadap sumber daya alam sekitarnya yang kurang bersahabat menjadi hal yang dapat memberi nilai tambah yang lebih besar. Ujungnya adalah menaikkan pendapatan serta memperbaiki gizi, memperbaiki kesehatan, dan memperbaiki kemampuan berenergi/berdaya pikir serta cepat menangkap isyarat pembangunan.
Daftar Pustaka
Van Bemmelen, R. W., 1949. The Geology of Indonesia. Martinus Nyhof, The Haque.
Sampurno, 1993. Kondisi Geologi dan Kemiskinan Telaah Jawa Barat; Harian Pikiran Rakyat, Bandung